Budi Azhar Ikuti Ngalongok Dulur di Lembur, Minta Hasil Touring Jadi Acuan Pembangunan Sukabumi

DPRD6 Views
banner 468x60

Sukabumi  – Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi Budi Azhar Mutawali mengikuti touring Ngalongok Dulur di Lembur dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Sukabumi ke-156.

Kegiatan tersebut berlangsung pada Sabtu, 19 September 2026. Rombongan touring melintasi sejumlah wilayah di Kabupaten Sukabumi. Selain itu, rombongan singgah di Alun-alun Jampangtengah.

banner 336x280

Momentum HJKS ke-156 ini mempertemukan unsur legislatif dan eksekutif di lapangan. Oleh karena itu, kegiatan ini tidak hanya menjadi agenda seremonial. Namun, kegiatan ini juga menjadi ruang evaluasi pembangunan.

Budi Azhar menilai touring memiliki nilai positif. Ia berharap kegiatan tersebut membawa makna nyata bagi arah pembangunan ke depan.

“Yang pertama bahwa kegiatan ini bisa positif. Kita pemerintah daerah bersama-sama dengan semua turun ke lapangan, touring melihat daerah. Tapi saya berharap kegiatan ini bukan hanya seremonial, tetapi harus ada makna dari kegiatan itu sendiri,” ujar Budi Azhar saat ditemui di Alun-alun Jampangtengah.

Evaluasi Dua Tahun Kepemimpinan Jadi Fokus

Budi Azhar menyebut touring kali ini bertepatan dengan dua tahun kepemimpinan pemerintahan daerah saat ini. Karena itu, ia menilai momen ini tepat untuk melihat perkembangan program yang sudah berjalan.

Menurutnya, pemerintah daerah perlu mempertahankan program yang sudah baik. Sementara itu, pemerintah juga harus memperbaiki sektor yang masih kurang.

“Dua tahun kepemimpinan beliau kita bisa melihat bagaimana perkembangannya. Yang sudah baik kita pertahankan, yang masih kurang kita bisa melihat langsung. Mudah-mudahan ke depan ini bisa jadi acuan untuk prioritas pembangunan,” katanya.

Selanjutnya, ia menjelaskan pengamatan langsung di lapangan jauh lebih efektif. Sebab, berbagai persoalan terlihat lebih nyata. Misalnya, kondisi infrastruktur jalan, layanan pendidikan, akses kesehatan, hingga kondisi sosial masyarakat.

Di sisi lain, data laporan di atas kertas sering tidak menggambarkan kondisi real di lapangan. Oleh karena itu, turun langsung ke lembur menjadi cara terbaik untuk menyusun skala prioritas pembangunan tahun depan.

Potret Lembur Jadi Acuan Prioritas Pembangunan

Budi Azhar menekankan pentingnya memetakan kondisi tiap lembur. Ia ingin pemerintah tahu lembur mana yang sudah maju dan lembur mana yang masih tertinggal.

“Yang paling penting adalah kita melihat lembur mana yang sudah baik dan mana yang kurang. Yang baik kita pertahankan, yang masih kurang kita perbaiki ke depan,” ungkapnya.

Selain itu, ia melihat kegiatan Ngalongok Dulur di Lembur memberi ruang interaksi langsung dengan warga. Rombongan tidak hanya melintas. Namun, rombongan juga bertemu petani dan masyarakat kurang mampu di sejumlah titik.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, panitia menyalurkan bantuan untuk petani dan warga yang membutuhkan. Kemudian, rombongan berdialog untuk mendengar kebutuhan warga secara konkret.

Budi Azhar menilai interaksi ini sangat penting. Pasalnya, kebutuhan warga sering berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lain. Karena itu, pendekatan pembangunan harus berbasis kebutuhan lembur.

Sinergi Eksekutif dan Legislatif di Lapangan

Menurut Budi Azhar, touring kali ini menunjukkan kekompakan antara legislatif dan eksekutif. Ia menyebut kolaborasi ini menjadi modal penting untuk menyamakan pandangan.

“Yang turun hari ini bukan hanya kami dari DPRD, tapi pemerintahan daerah antara legislatif dan eksekutif turun bersama-sama. Mudah-mudahan antara eksekutif dan legislatif ini bisa bersama-sama punya pandangan yang sama, mana yang harus diperbaiki dan mana yang harus dipertahankan,” jelasnya.

Selain itu, ia berharap kesamaan pandangan ini berlanjut dalam pembahasan anggaran dan perencanaan. Sebab, sinergi di lapangan harus berlanjut dalam kebijakan di parlemen.

Sementara itu, ia juga menyadari tidak semua anggota DPRD bisa ikut touring. Beberapa anggota memiliki agenda lain di waktu yang sama. Namun, ia tetap mengapresiasi anggota DPRD yang hadir dalam rombongan HJKS ke-156 tersebut.

Ia menambahkan, Pemkab Sukabumi perlu menjaga tradisi Ngalongok Dulur di Lembur setiap HJKS. Pasalnya, tradisi ini mendekatkan pemerintah dengan warga di pelosok. Bahkan, tradisi ini bisa menjadi model pengawasan pembangunan berbasis partisipasi masyarakat.

Ke depan, hasil touring harus masuk dalam dokumen perencanaan. Misalnya, dalam Musrenbang, RKPD, dan pembahasan APBD. Dengan demikian, aspirasi dari lembur tidak hilang begitu saja setelah touring selesai.

Budi Azhar juga berharap Dinas terkait menindaklanjuti temuan lapangan. Misalnya, Dinas PU menindaklanjuti jalan rusak, Dinas Pendidikan mengecek sekolah, dan Dinas Kesehatan memperkuat layanan Puskesmas.

Oleh karena itu, ia meminta tim HJKS membuat laporan tertulis hasil Ngalongok Dulur di Lembur. Laporan tersebut harus memuat kondisi tiap wilayah yang rombongan singgahi. Kemudian, laporan tersebut menjadi bahan rapat bersama antara DPRD dan Pemkab Sukabumi.

Ia menegaskan, esensi HJKS ke-156 bukan hanya perayaan. Namun, esensi tersebut harus kembali pada pelayanan untuk warga Sukabumi.

“Yang paling utama adalah hikmah dari kegiatan ini harus bermanfaat ke depan,” pungkasnya.

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *